Dispora Banda Aceh

Bau Anyir Dari Istana

Bau Anyir Dari  Istana

 

Kita bicara lagi  tentang  perubahan dan kekekalan.  Perubahan memang  jelas dan kekekalan tak  dapat dipastikan. Itulah sebabnya semua orang menginginkan  kekekalan, bahkan dengan cara apa pun.  Dalam ranah politik yang kekal hanya kepentingan. Seorang  penguasa  jika harus mengekalkan sesuatu, tak lain dari   mengawetkan kekuasaannya.  Kekuasan itu dikejar, direbut, lalu genggam erat-erat.  Sebuah peti  ambisi pun disiapkan untuk menyimpan dan mengawetkannya. Adakalanya tanpa etika dan terkesan amat menjijikkan. Otoriterisme pun lahir.

Kita harus berpaling ke masa silam tatkala berbicara kekuasaan. Ya,  kekuasaan yang absolut. Bisa jadi itu di  era Romawi, Konstantinopel, Persia,  atau bahkan di Bagdad. Di sana berbagai tragedi didadarkan  demi kekuasaan. Ke luar Istana  yang tercium hanya serbak wewangian sebagai mantra    menyihirkan rakyat.  Seolah itulah aroma kecintaan Raja kepada rakyatnya. Untuk itu  kawula mengirim sembah sujud lewat celah  pagar Istana. Secara berkala Raja menggelar kenduri dan pesta. Membagi  hadiah untuk kaum duafa  dan anak yatim.  Padahal di baliknya adalah bau anyir kebengisan,  keberingasan,  dan arogansi.

Ada batu tempat mengasah pedang dan memajangkan  meriam di sekeliling Istana. Jika ada kerumunan yang dianggap mengusik kekuasaan  Sang Penguasa, pedang dan meriam secara serta merta menjalankan fungsinya. Retorika, syair dan  zikir duniawi hanya untuk menyihir. Keteladanan semu pun diperlihatkan. Raja  menyembelih sendiri hewan kurban lalu dibagi-bagikan kepada kaum miskin dalam  sebuah upacara Diraja. Raja terkesan pemurah dan  prorakyat! Kanibalisme tak pernah menjenguk ke luar pagar, memang!

Tapi dunia bergerak. Sejarah beralih dan membuat jejak-jejak baru seiring dengan tumbangnya Raja dan hanyutnya Kaisar  dalam arus sejarah. Istana dipenuhi lumut dan jadi tontonan  turis. Monarkisme  berlalu. Demokrasi dirumuskan  dan dijalankan dalam sistem baru  lewat partai-partai politik untuk menampung hasrat, keinginan, dan cita-cita. Rakyat berpeluang memperoleh hak dan menolak kesewenangan.

Di sini, di Aceh ini Raja pernah jadi simbol kebanggaan bersama. Tetapi kebanggaan kita terhadap raja-rajanya di Samudera Pasai abad 13 dan di Kerajaan Aceh abad ke 16 bukan kebanggaan statis tanpa gerak. Perspektifnya harus sesuai dengan langkah  zaman. Yang kita awetkan adalah spirit dan simbol-simbol kerakyatan bukan tradisi dan prilaku sinobisme. Kita kagum karena rakyat  mencintai pemimpinnya sepenuh hati. Tak ada hasrat mengambil alih hak-hak Raja. Rakyat amat mahfum dengan posisinya sebagai  kawula.

Itu harus menjadi titik pandang kita tatkala ingin memaknai arti kekuasaan dan ikhwal kepemimpinan. Bukan khalayan kita tentang Sang Raja menunggangi  gajah tangguh,  berpedang emas atau bertengkuluk sutera. Bukan ikhwal adanya ribuan meriam perunggu dan abdi dalem yang patuh serta  kaum kasim pengawal Ratu. Para pelaut  asing memberi kesaksian bahwa Kerajaan Aceh adalah sebuah negeri yang terlengkap pada zamannya. Itu telah berlalu. Kebanggaan tetap ada.

Itu adalah cermin. Tak lebih dari sepasang kaca spion  kendaraan untuk melihat ke belakang. Kita jangan terlalu hanyut. Zaman yang berubah memunculkan kesadaran politik. Peradaban membuka gerbang agar manusia berpikir tentang hak dan kewajibannya. Di sanalah demokrasi menancapkan akarnya. Dalam kesadaran itu pulalah partai politik menjadi instrumen sebagai pengontrol mandat yang telah diberikan kepada para pemimpin. Di sana harus  ada tempat dan agar kekuasaan tidak merambat ke luar pagar demokrasi.

Demokrasi punya mekanisme dan fatsun.  Ketika  menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada sesorang, rakyat juga punya cara baku   bagaimana kelak agar kekuasaan itu dapat ditarik kembali  jika pemimpin membelot. Ya, jika Raja menyakiti hati nurani rakyat dan menyelewengkan amanah. Kalau  tidak, Sang Raja akan asyik maksyuk untuk selama-lamanya.

Kekuasaan itu ibarat brendy, kata seorang filusuf. Makin diminum makin mabuk. Makin mabuk makin ingin menambahnya lagi.   Kekuasaan itu sulit lepas dari kecanduanya. Dalam hasrat hati  terdalam  Sang Penguasa,  kekuasaan itu harus kekal. Tak boleh   jatuh ke tangan lain. Apalagi kepada orang di luar pagar kekerabatan. Selera purba  dan hedonisme muncul. Dinasti pun dibangun. Padahal sejarah peradaban manusia     menuntut ke arah yang lebih baik,  lebih demokratis dan bermartabat.

Tapi, itu tadi! Kekuasan adalah brendy. Kekuasaan adalah candu. Kekuasaan selalu memantulkan  keinginan agar  kekal di tangan pemiliknya. Kekuasaan adalah ruang pesta  yang wangi  tempat Sang Penguasa  dan orang-orangnya  asyik maksyuk bahkan mabuk di dalamnya. Padahal sebuah ruang ikhlas untuk “peralihan  kekuasaan” harus dibuka lebar-lebar sebelum datang prahara zaman.

Untuk itu, rakyat  tak bisa membiarkan  hasrat  Raja  mengekalkan kekuasannya. Sebab sejarah telah mengingatkan kita  bagaimana para Raja dan Kaisar yang konon mencintai rakyat, ternyata kehilangan akal sehatnya demi kekuasaan. Di sanalah lahir cara-cara yang keji dan menjijikkan. Bau asyir itu akan merambat dan memusnahkan   keharuman Negeri yang pernah kita miliki ini.

comments

Editor Rating
60
60
Bau Anyir Dari Istana
User Rating
0
User rating
Penulis

Powered by lokava