Dispora Banda Aceh

Gubernur Baru

Gubernur Baru

 

Rakyat Aceh  telah memiliki gubernur yang dipilih 15 Februari 2017 lalu yang diklem pilkada paling demokratis dan damai sepanjang pilkadasung yang pernah digelar  di tanah rencong. Irwandi Yusuf  terpilih kembali untuk menjadi Gubernur Aceh periode 2017 -2022 yang sebelumnya sudah pernah menjadi gubernur pada priode 2007-2012 dengan pasangan wakil gubenur yang berbeda.

Gubernur baru, tentu membawa harapan baru bagi rakyat. Apalagi Irwandi Yusuf sudah berpengalaman, sehingga espektasi makin meningkat untuk segera mampu menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah yang bermuara pada kesejahteraan dan menjadi dambaan rakyat Aceh.

Seperti diakui Irwandi Yusuf ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan dengan cepat dan tepat guna mewujudkan visi-misi yang telah menjadi janji politik di masa kampanye. Bagi kita, tidak ada keraguan tentang kemampuan pasangan Irwandi-Nova dalam mengimplimentasi dan merealisasi janji-janji politik mereka mengingat pengalaman yang sudah memberi pelajaran-pelajaran penting dalam memimpin negeri yang pernah dilanda konflik politik dengan Jakarta ini.

Pemerintah Irwandi Yusuf telah memberi gambaran yang kongkrit , apa itu sejumlah pekerjaan rumah bagi Aceh kepada Presiden Joko Widodo, seperti Proyek Strategis Nasional (PSN), diantaranya pembangunan jalan bebas hambatan atau jalan tol Aceh, KEK Arun, waduk Keurutoe, waduk Tiro, waduk Rukoh, waduk Lhok Guci dan Waduk Jambo Aye.

Sedang proyek strategis Aceh lainnya, meliputi pembangunan terowongan Geureutee, Pembangunan Jalan Banda Aceh Quter Ring Road, Normalisasi Flood Way Krueng Aceh, Pengendalian Banjir Sungai Singkil, Kereta Api Aceh, dan Sail Sabang.

Kesemuanya itu butuh dukungan kementerian terkait, usaha dan kerja keras kita, dan koordinasi untuk mewujudkannya, kata Irwandi Yusuf dihadapan presiden yang pada kesempatan itu juga dihadiri Wali Nanggroe, Pimpinan DPRA, dan Ulama, serta pejabat pemerintah Aceh lainnya.

Dari pernyataan itu, tersirat beberapa hal mendasar yang belum tuntas di Aceh, meskipun masa damai sudah lebih dari satu dasawarsa, tapi kata saling mendukung, kebersamaan, bersatu, saling berkoordinasi selalu menjadi kata yang hanya mudah diucapakan, tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan.

Politik dan persaingan politik melalui ‘pesta’ demokrasi yang bernama pemilu, baru dipahami sebatas menang-kalah, lalu menempatkan orang-orang atau rakyat dalam kelompok-kelompok pilihan mereka. Padahal politik dimaksudkan untuk melahirkan pemimpin dan kepemimpinan unrtuk semua rakyat, dan perbedaan itu hanya sampai di batas setelah selesai perhitungan suara, kemudian saling bersatu dengan mengakui pilihan rakyat banyak dan menghargai yang belum cukup suara.

Ditengah realitas politik yang mengantarkan rakyat dalam kelompok-kelompok kepentingan, maka apa yang diucapkan Irwandi Yusuf dalam pidato perdana ketika dilantik menjadi gubernur diharapkan mampu menjadi penawar ‘kebuntuan’ fikir menyoe kon ie leuhob, menyoe kondro gob.

“Bagi yang memilih kami atau pun yang tidak memilih kami, anda semua kami cintai,” kata Irwandi. Seluruh masyarakat Aceh paham, pilkada yang telah usai dengan sangat demokratis, dinamis, kompetitif, sentimental, dan bahkan terkadang emosional. Pilkada membuat masyarakat berada dalam kelompok-kelompok sesuai pilihan masing-masing.

“Sejak hari ini, semua itu sudah berakhir. Berhentilah saling menjelek-jelekkan, saling menepuk dada, saling menjatuhkan, dan semua perangai buruk yang hanya merusak persatuan kita masyarakat Aceh. Hari ini semua kita adalah Aceh, yang hidup dari tanah dan air yang sama, yang saling membagi mimpi dan harapan yang sama, menuju masyarakat Aceh yang maju, adil, beradab, dan sejahtera, katanya.

Permintaan dari pasangan Irwandi-Nova itu, perlu disikapi dengan arif dan bijak sana oleh semua pihak. Sudah saatnya bagi rakyat Aceh, perbedaan pilihan dalam pilkada hanya sampai ketika selesai perhitungan suara, bukan menyimpan demdam secara turun-temurun (*)

comments

Penulis

Pemimpin Umum/Redaksi Koran Aceh, sejak Mahasiswa menulis pada Surat Kabar Mingguan Peristiwa, menjadi Wartawan Mimbar Umum Medan, Harian Pelita Jakarta. Pernah menjadi Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh. Lahir di Lhok Pawoh, Manggeng, Aceh Barat Daya, 6 Agustus 1969. Lulusan FKIP Universitas Syiah Kuala 1991, Jurusan Bahasa dan Seni. Aktif pada organisasi kepemudaan, aktivis LSM, Ketua Yayasan Peuradeun Nanggroe, Presidium Forum LSM Aceh priode 2000 – 2003.

Powered by lokava