Dispora Banda Aceh

Gubernur dan Wakil Gubernur

Gubernur dan Wakil Gubernur
Pepatah klasik Barat mengatakan bahwa ada dua profesi seseorang dilupakan dan tak disebut-sebut lagi. Pelaut dan Wakil Presiden Amerika Serikat.

 

Jika kita punya anak lelaki yang memilih jadi pelaut, bertahun-tahun “hilang” di lautan. Orang kampung dan dalam keluarganya menganggap hilang tanpa berita. Bagaimana dengan Wakil Presiden? Dalam tradisi politik dan pemerintahan Amerika Serikat, Wakli Presiden adalah jabatan formal belaka, tidak boleh menonjol apalagi setara dengan Presiden.

Dia jauh dari keramaian dan luput dari pembicaraan publik. Pers pun jarang mempublikasikannya. Ini sudah terjadi sejak Jonh Adams, Wakil Presiden AS pertama yang mendampingi George Washington (1789-1797) sampai Barack Obama (2009-sekarang).

Ketika Richard Nixon berkuasa di priode kedua (1973-1974), nama Gerald Ford nyaris tak terdengar. Barulah setelah Nixon –karena suatu hal– harus meninggalkan Gedung Putih, nama Ford melejit karena tokoh Partai Republik itu menjadi Presiden AS (1974-1977) menggantikan Nixon. Sebagaimana namanya hilang semasa Nixon, Ford juga tidak memberi angin kepada wakilnya Nelson Aldrick Rockefeller.

Rockefeler tak sampai ke Gedung Putih, sebab Partai Demokrat menyapu Partai Republik dalam Pemilu. Tokoh populis, Jimmy Carter jadi Presiden AS (1977-1981) berikutnya. Kalau kepala negara sedemokratis AS saja demikian, konon lagi di negara-negara lain. Tak layak orang Nomor Dua menjadi bintang terang menyaingi Matahari.

Tak boleh ada dua Matahari dalam satu Dunia. Pada masa kerajaan klasik pun tidak ada Matahari kembar. Di era sejarah modern apa yang terjadi dalam tradisi AS juga berlaku di negeri ini. Lihat saja bagaimana Ir Soekarno dan Drs Muhammad Hatta yang sama-sama getir memerdekakan Indonesia, akhirnya pisah ranjang.

Gema suara bersama proklamasi kemerdekaan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada 17 Agustus 1945b masih terekam dan terdengar sampai sekarang. Naskah proklamasi masih utuh tersimpan. Toh, akhirnya Soekarno menyingkirkan wakilnya secara halus setelah cita-citanya menjadi Nomor Satu tercapai. Sejarah menyebutkan “Hatta mengundurkan diri”.

Istilah Dwi Tunggal Soekarno-Hatta hancur berkeping-keping. Mahathir Muhammad PM Malaysia pada tahun 1982 “mengambil” Anuar Ibrahim Ketua ABIM (Angkatan Belia Islam-Malaysia) yang berafiliasi dengan oposisi untuk Ketua Pemuda UMNO. Dia dipersiapkan sebagai calon penggantinya. Niat ini berhasil.

Mahathir mendepak Teungku Razali Hamzah atau Ku Li karena pangeran flamboyan dari Pahang ini lebih populer dari Mahathir. Dalam perjalanannya Anuar malah lebih maju dari Ku Li. Dia tidak sabar menunggu giliran. Mahathir pun menyingkirkan Anuar “secara kejam”. Ghafar Baba, politisi veteran yang tak punya lagi birahi politik, diangkat jadi pengganti Anwar.

Rupanya semakin lebar terbuka pintu demokrasi semakin lebar pula peluang pecah kongsi Nomor Satu dengan Nomor Dua. Eforia demokrasi telah memberikan terjemahan tersendiri dalam hubungan presiden-wakil presiden, gubernur-wakil gubernur, dan seterusnya. Seorang wakil merasa sama-sama punya hak karena sama-sama dipilih dan sama-sama turun modal.

Ini sangat tidak mengenakkan hati orang Nomor Satu. Pak SBY yang di priode pertama memilih JK sebagai wakilnya tak lagi bersama-sama di priode kedua. Dia merasa nyaman dengan Budiono yang lebih cool. Tak ada sedikit pun berusaha menyamai apa lagi menyelip SBY. Sebelumnya bintang JK sebagai orang Nomor Dua nyaris sama bersinar dengan Nomor Satu.

Termasuk dalam proses Perdamaian Aceh. Dalam senarai jabatan Gubernur Aceh, pasang surut hubungan orang Nomor Satu dengan Nomor Dua selalu ada. Di masa Aly Hasjmy, AM Namploh sebagai wakil tidak dapat menghabiskan masa jabatannya. Juga di masa Muzakir Walad dengan Marzuki Nyak Man. Hubungan orang Nomor Satu dengan Nomor Dua ditingkahi oleh gesekan-gesekan kecil.

Untunglah berapa waktu kemudian jabatan wakil gubernur ditiadakan hingga Hady Thajeb- Muhammad Syah Asyek dan Ibrahim Hasan—Teuku Djohan lembaga ini dihidupkan kembali. Di dua priode ini suasana sangat nyaman karena orang Nomor Dua di Aceh sadar akan kedudukannya tanpa hasrat mendahului. Waktu terus berlalu. Jumlah orang yang masuk Gedung Putih di AS bertambah.

Obama adalah presiden ke 47 di Negeri Paman Sam. Beberapa di antaranya orang Nomor Dua berhasil menjadi Nomor Satu, misalnya Bush dan Bush Junior, Gerald Ford, Harry S Truman, dan lain-lain. Dari awal AS hanya punya dua partai: Republik dan Demokrat. Tak ada “partai amuba” yang memecahkan diri melahirkan partai baru yang belum tentu mampu menyaingi partai asalnya.

Namun apa pun di antara dua partai itu, dalam tradisi AS, orang Nomor Dua tak boleh mengimbangi Nomor Satu. Nomor Satu pun tak boleh mencurigai Nomor Dua.

Di Aceh, pemilihan gubernur dan wakil gubernur telah usai. Siapapun yang menjadi pemimpin aceh ke depan semoga selalu ingat, Tak ada cerita seorang pelaut Amerika yang hilang namanya. Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Terpilih Periode 2017-2022. (*)

comments

Editor Rating
60
60
Gubernur dan Wakil Gubernur
User Rating
56
User rating
Penulis

Powered by lokava