Dispora Banda Aceh

Istana Dar-ud Dunia

Istana Dar-ud Dunia
Salah satu bukti kejayaan dan kemegahan Aceh yaitu adanya istana. Istana atau kerap disebut dengan “Dalam” merupakan pusat kerajaan dan sekaligus pusat kebudayaan.

 

Pada abad ke 17, Istana Sultan sangat megah dan dinamakan Dar-ud Dunia. Kemegahan Dar-ud Dunia hancur akibat perang Belanda di Aceh. Ketika Belanda berhasil menguasai Kuta Radja, semua bangunan yang masih tersisa dialihfungsikan menjadi tangsi militer.

Setelah berhasil merebut pusat kekuasaan Aceh, Belanda mengubah nama Dalam menjadi Kraton dan mengganti nama tersebut termasuk dalam peta serta dokumen-dokumen resmi. Belanda ingin menyeragamkan istilah Aceh dengan kerajaan-kerajaan di Jawa. Sisa kejayaan Kerajaan Aceh ada pada Pinto Khob dan Gunongan. Kebudayaan peninggalan kerajaan juga masih terukir jelas di beberapa nisan para raja, yang sebagiannya masih asli dan dapat dibaca.

Banyak pihak menanyakan dimana sebenarnya letak Dalam (Istana) Kerajaan Aceh. Di masa Snouck Hougronje bertandang ke Aceh, Dalam berada di tengah-tengah kota. Kawasan ini menjadi pusat kota yang kemudian dikenal dengan sebutan Banda Aceh. Menggambarkan bagaimana kondisi Dalam tersebut, bisa dirunut dari kesaksian Beaulieu yang memiliki izin memasuki Dalam Dar-ud Dunia. Dalam Dar-ud Dunia memiliki empat pintu.

Sementara menurut Dong Xi Yang Kao, Dalam Dar-ud Dunia memiliki enam buah pintu. Pintu utara menurut peta yang ada pada masa Denys Lombard, menghadap ke kota. Di atasnya ada tembok kecil dari batu setinggi 10 sampai 12 kaki atau sekitar 3,50 m, untuk menyangga serambi dengan dua pucuk meriam perunggu pada kedua belah pintu. Melalui pintu besar inilah orang asing masuk ke dalam istana.

Di bagian dalam, pelataran-pelataran dan bangunan-bangunan diatur pada kedua tepi sebuah sungai kecil, yang airnya turun dari pegunungan dan dingin serta jernih sekali. Nama sungai itu yaitu Krueng Daroy yang datang dari selatan, membelah Dalam Darud Dunia dan sungai yang panjang itu bermuara ke Krueng Aceh.

“His court at Achen is pleasant, having a goodly branch of the main river (anak sungai besar dari sungai utama) about and throught his pallace, which he cut and brought six or eight miles off in twenty days, which we continued at Achen,” ujar Blest. Kira-kira artinya yaitu, istana Aceh menyenangkan, memiliki anak sungai besar dari sungai utama dan melalui istananya, pekerjaan memotong dan membawa (anak sungai ke istana) hingga berjarak enam atau delapan mil dibutuhkan wakut dua puluh hari, dimana kita melanjutkan (tinggal) di Aceh.

Tanggul sungai dipasang dengan baik dan juga dibuat berundak-undak untuk memudahkan orang agar dapat turun Simbol Kebesaran Sejarah etua Majelis Adat Aceh H. Badruzzaman Ismail, SH,M. Hum mengatakan, Pembangunan Meuligoe Wali Nanggroe sangat penting, karena akan menjadi simbol daerah dan simbol dari kebesaran sejarah Aceh.

Jika terkait dengan interior atau kemasannya itu saya serahkan kepada ahlinya, tetapi saya pribadi berharap ada simbol-simbol tertentu yang menunjukkan sejarah dan kebudayaan bangsa kita yang nantinya memberikan kesejukkan dan keindahan pada Meuligoe Wali Nanggroe tersebut.

Meuligoe atau Istana wali ini bangunan yang monumental, saya kira tidak ada salahnya kalau ada pihakpihak yang memberi masukan dan masukan itu ditampung saja, karena akhirnya yang membuat formulasi tentang dekorasi atau penataan ornament-ornamen keacehan sehingga benar-benar menjadi simbol kebanggan bersama sampai ke bawah untuk mandi.

Setelah pintu masuk dilewati, maka akan dijumpai pelataran utama yang bisa menampung 4.000 prajurit dan 300 ekor gajah. Di sisi nya terdapat gudang senjata, sebuah bangunan dari batu bata yang diatasnya terdapat teras. Teras ini berukuran 50 langkah atau sekitar 40 meter dan diletakkan beberapa meriam kecil.

Di sisi lainnya terdapat empat balai besar dan “semacam baluarti dari batu” dengan apilan dan banyak amunisi. Dari pelataran ini orang masuk pelataran kedua, lalu ke pelataran ketiga, setelah tiap kali melewati pos penjaga. Tetapi rincian Dalam ini sulit sekali digambarkan para penjelajah, terutama inti dari Dalam itu sendiri. Para penjelajah hanya bisa memasuki ruang-ruang umum, diantaranya di ujung ruang pelataran ketiga.

Dimana terdapat pintu yang berlapis bilah-bilah perak, ruang besar pertama tempat mereka harus menanggalkan sepatu. Setelah ruangan ini kemudian baru ditemukan sebuah balai luas yang jauh lebih tinggi dan setiap dindingnya dilapisi kain emas, beludru dan kain damas.(Trendyonline)

comments

Editor Rating
60
60
Istana Dar-ud Dunia
User Rating
0
User rating
Penulis

Powered by lokava