Dispora Banda Aceh

KALUT

KALUT

oleh Hamdan Budiman

 

Istriku yang baru melahirkan anak kedua kami, tidak henti-hentinya bertanya apa gerangan yang terjadi. Sekali-kali ia melirik jam weker tua yang tergolek di sudut ruang tempat yang menjalani madeung. Diam-diam malam telah merangkak jauh.

Malam-malam selama menjalani madeueng, aku ikut juga berjaga-jaga dan kadang bergiliran untuk menggantikan popok bayi kami, walau pada hari-hari terakhir ini aku betul-betul kalut. Betapa Tidak. Adakah orang yang percaya atau sekedar mau mendengar pembelaanku? Atasanku berkali-kali sudah hubungi. Ia seperti menghindar. Siapakah lagi yang mau percaya dengan ucapanku. Berita penyelewengan yang dimuat di sebuah surat kabar harian telah menyeret aku ke dalam sebuah ruang gelap. Semua teman di kantor memandangku sinis. Aku menjadi serba salah, salah tingkah.

Kurasa hanya mertuaku saja yang berada dipihakku dengan memberi komentar atas berita surat kabar tentang diriku itu.

“Ini tidak adil,” komentar mertuaku menjelang maghrib tadi. “Ini semua direkayasa. Semua ini tidak adil. Kekuasaan telah mendahului hukum, mana azas praduga tak bersalah yang selama ini diagung-agungkan itu?”

Begitu pula di tengah malam yang telah merangkak jauh itu, aku telah berdialog dengan diriku sendiri tentang wartawan yang memuat berita itu tidak pernah menghubungi aku, sebagai orang yang dituduh telah melakukan penyelewengan yang merugikan rakyat banyak. Bahkan sampai berita itu sudah menyebar dan menyusup ke mana-mana sang wartawan tidak pernah berusaha melakukan konfirmasi atau sekedar melakukan cek dan ricek atas kasus yang telah mencemarkan namaku.

Wartawan juga manusia, tetapi apakah tugas wartawan yang memiliki dimensi ideal harus dikorbankan demi mengejar aktualitas demi sensasional atau demi entah apalagi. Wartawan semestinya juga memberi hak yang sama kepada siapa saja. Tapi mana? Mereka tidak pernah menghubungi aku. Apakah aku tidak punya hak untuk membela diri.

Memangnya aku ini pejabat tinggi atau birokrat yang selama ini telah menjadi rahasia umum? Aku kan hanya pegawai rendahan yang selalu memandang persoalan sekecil apapun dengan rendah hati. Aku bersedia dikritik oleh siapapun.

Aku yakin ada maksud tertentu dari oknum wartawan dalam pemberintaan yang tidak berimbang terhadap fitnah yang menimpa diriku.

Berbagai wewenang selama ini telah dicabut oleh atasan tanpa memanggilku terlebih dahulu. Ia hanya memberi tahu lewat lisan kepada orang yang menggantikan Posisiku. Apakah ini yang namanya kekuasaan telah berjalan di atas hukum. Banyakkah yang telah menjadi korban keberingasan kekuasaan oknum-oknum tertentu?

Aku semakin terpukul ketika anak tertuaku pulang dari sekolah siang tadi sambil menangis mengadukan bahwa dia diejek oleh kawan-kawannya ia mengatakan saya sebagai koruptor.

Aku terkadang tidak habis mengerti. Seperti hari-hari ini, aku merasa sangat terhina, terpukul bahkan dilecehkan seperti kain kotor yang dibuang ke comberan dan kemudian diinjak-injak oleh orang-orang yang berkuasa.

Adakah pernyataan ini hanya perasaan hati yang perih dari perjalanan menelusuri sejarah dalam cengkraman sang waktu dari anak zaman. Hari ini, besok, lusa atau entah kapan semua ini terus berlanjut.

Tiba-tiba aku benar-benar menjadi asing, sangat asing, entah di negeri mana. Aku menyaksikan orang-orang semua diam. Keheningan yang panjang. Tanpa kata, tanpa suara berisik. Bagai kuburan di tengah hutan. Semua orang hanyut dalam benak masing-masing. Aku melihat seorang perempuan setengah baya. Ia menangis, menjerit, bahkan meraung-raung histeris, tak ada yang peduli. Semua hening. Berlalu begitu saja.

Ia merepet-repet sendiri , Ia berlari di ujung ujung jalan ke lorong lorong yang gelap. Bau kematian menyengat, menebar kemana-mana. Wangi Bunga dan pedupaan-pedupaan bagai telah membius orang-orang dalam keseharian mereka. Tiba-tiba dunia bagai tak lagi berputar.

Nyak Tihawa, begitu orang kampung memanggilnya. Dia bagai tersentak dan terhenyak disudut waktu, ia tidak bisa lagi berlari, bahkan kehilangan daya untuk sekedar menggerakkan tangannya, menggapai minta bantuan. Air matanya tumpah ruah membasahi pipi, membasahi selimut, membasahi bumi, bahkan membasahi ujung-ujung langit yang memerah menjelang senja itu.

“Semua orang telah phobia,” teriak Nyak Tihawa dari sudut senja kepiluan hatinya. Teriakan itu sudah beribu-ribu kali keluar dari kerongkongannya. Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun teriakan yang sama terus terdengar menggema dari bibir yang tampak mulai keriput.

Sejak pada suatu senja suaminya ditembak di depan matanya dan bahkan di depan dua anaknya yang masih ingusan. Nyak Tihawa terlihat seperti orang linglung. Kemudian tersebar isu, suaminya terlibat dalam persekongkolan orang-orang yang melakukan mimpi.

Orang-orang hanya diam, terdiam dalam angan-angan panjang. Kesadaran telah teraduk-aduk, hingga mereka spontan melontarkan ucapan-ucapan ketidakberdayaan. “Biarkan kami hidup. Biarkan kami pengecut. Memangnya mau apa? Kami telah lama mati, maka biarkan saja mereka menghancurkan masa depan siapa saja dari kami yang sudah tidak memiliki roh!”

Yong Kulat, Bacah Lawok, Nek Lahet, dan Teungku Mayed menurut orang-orang Kampung selama ini terkenal suka berbicara vokal. Mereka kelihatan paling Keder dan mengambil posisi diam, membungkam, tidak ada lagi obrolan warung kopi, ciri-ciri kas diberbagai lepau desa.

Pengumuman dilarang bermimpi tertempel di setiap sudut kampong. “Siapa yang berani bermimpi akan ditembak ditempat”, begitu pengumuman keras itu.

Dan memang bukan hanya sekedar pengumuman keras yang mengejutkan setiap warga, tapi tampaknya penguasa kampung itu, tidak main-main tentang ingin memberantas mimpi-mimpi masyarakat. Selain perintah harian, juga diberlakukan undang-undang darurat yang membolehkan pihak keamanan memasuki setiap rumah penduduk untuk menyelidiki apakah warga masyarakat melakukan mimpi terselubung.

Orang-orang maklum tentang sikap mereka mereka yang selama ini vokal lalu mengambil posisi diam, karena hukuman yang akan diambil tidak tanggung-tanggung. Apalagi mereka selama ini suka menceritakan mimpi-mimpinya tentang hidup ini, tentang idealisme, tentang demokrasi atau tentang apa saja yang menyangkut kepentingan rakyat kecil.

Tiap malam puluhan aparat keamanan berjaga-jaga di rumah – rumah  penduduk, mereka bebas keluar masuk setiap kamar-kamar tidur, tidak peduli apakah rumah itu hanya sebuah rumah Inong balee yang melihara berapa anak yatim.

Masyarakat semakin was-was semenjak bulan bulan terakhir ini, meskipun belum ada satu orangpun warga yang terjaring dengan undang-undang darurat itu, namun ngeri juga kalau dituduh sebagai manusia yang membuat mimpi-mimpi, hukumnya tidak tanggung-tanggung, mati. Bahkan halal ditembak ditempat, kalau terbukti sedang bermimpi atau bisa seumur hidup kalau hanya berdasarkan laporan anggota masyarakat yang berjabatan sebagai Cu’aak.

Orang yang bermimpi adalah perbuatan makar. Paling tidak merupakan embrio makar, kata seorang pejabat paling ditakuti.

Kelihatan di kampung-kampung masyarakat sudah lesu darah, mereka kehilangan motivasi untuk bekerja. Makna cinta sudah sirna dan kehilangan arah dalam hari-hari panjang yang gerah.

Pagi-pagi terus sepi dan malam Kehilangan pesonanya, semua membisu, tak ada lagi kata petuah, ceramah atau semacamnya untuk menentramkan Jiwa.

Tidak ada lagi kerinduan-kerinduan. Yang ada hanya kebencian dan permusuhan. Manusia kehilangan jati diri. Saling curiga, tidak ada lagi saling percaya adalah pemandangan di berbagai sudut kampong. Kepalsuan makin merajalela, orang-orang mulai pesimis tentang hidup. Mereka saling fitnah dan mengambil kesempatan untuk membalas dendam pribadi dengan menuduh seseorang telah bermimpi. Tidak lagi senyum ramah yang selama ini memancar dari wajah orang kampung yang polos.

Begitu pula air bening yang mengalir deras di sela-sela batu pegunungan sejuk. Hawa dingin yang segar terasa menusuk-nusuk pori-pori seolah kehilangan daya sugestif untuk menyejukkan hati yang pelan-pelan telah mengering.

“Bang bangun,… Bangun sudah subuh, kini giliran Abang untuk menjaga buah hati kita. Aku sangat mengantuk, ganti popoknya”, ujar Istriku yang langsung memejamkan matanya. Oh, dimana aku? ( Banda Aceh Maret 1997 & pernah dimuat pada Harian Serambi Indonesia, Minggu 8 Juni 1997).

comments

Penulis

Powered by lokava