Dispora Banda Aceh

Man Kopek

Man Kopek
Tiba-tiba suasana menjadi beku, senyap sesunyi gunung. Man Kopek tak bergerak lagi, terdiam kaku, diam dalam hening sunyi yang damai.

 

Dor… dor… dor… suara senjata menyalak. Man Kopek terjerembab ke tanah di sudut belakang rumah. Darah berceceran. Tiga peluru dari senjata serbu jenis SS-1 yang dilepas secara beruntun menghujam punggung, tembus ke dadanya. Dia tersungkur mencium tanah. Kakinya tersangkut di pagar. Tragis! Tiba-tiba suasana menjadi beku, senyap sesunyi gunung.

Man Kopek tak bergerak lagi, terdiam kaku, diam dalam hening sunyi yang damai. Dia tidak tahu apa-apa lagi dan tak ada yang tahu bagaimana terakhir kalinya, karena setelah itu senja kala turun menyergap. Gelap malam menyilimuti. Mangrib itu, muazin tidak berani keluar rumah. Gampông Padang Meurandeh tiba-tiba menjadi sunyi senyap, tidak ada suara berisik.

Man Kopek, tiba di rumah menjelang magrib, meugang hari raya puasa. Sudah enam bulan dia tidak pernah pulang. Istrinya mengangkat segelas kopi, bersama leumang untuk berbuka puasa. Deknong, anak bungsu berumur dua tahun duduk di pangkuannya.

Dua anak lelaki, belum masuk sekolah dasar itu juga ikut duduk di samping, ketika tendangan pintu terdengar sangat keras. “Man Kopek, keluar kamu!” Karena terkejut, secara reflek ia meloncat lewat jendela belakang, lalu melewati pagar secepat kilat. Ya Allah! Bajunya tersangkut di pagar. Rupanya rumah panggung sederhana itu telah dikepung.

Istrinya tidak kuasa menahan ketakutan. Ia menggigil dan mengerang, lalu jatuh pingsan. Ketiga anaknya menjerit-jerit menembus awan, menembus kaki langit temaram senja Ujong Manggeng. “Mak…ee. Due… Mak..ee. Due.. Mak.. Due…eee” teriak ketiga anaknya tak henti-henti. Deknong, tangisannya terdengar keras. Leumang suum baru saja diangkat dari panteue, menyembur keluar begitu saja dari mulutnya.

Cangkir, gelas, piring berbahan plastik berserangkan di lantai. Dapur sempit yang juga berfungsi sebagai ruang makan itu, sangat semraut, centang-perenang. Nasi, leumang, dan air kopi campur-aduk, berceceran di mana-mana.

“Mak…ee. Mak…ee. Mak..ee,” teriak perempuan kecil itu berkali-kali. Ibunya tergelatak begitu saja. Ia menggoyang-goyang kepala, tapi ibunya tetap diam tak bergerak. Membungkam seperti patung. Ketiga anak itu terus menangis, ratapannya melengking pilu, mengiris seperti sayatan sembilu. Penghuni liar rawa angker Suak Udeung, di belakang rumah itu, juga seperti tak berdenyut. Hembusan angin seperti sengaja dimatikan. Sangat mencekam. Tepat pukul 00.00 WIB, satu dua orang warga keluar rumah dengan harap-harap cemas, ketakutan membuat sangat was-was.

Perintah menguburkan mayat Man Kopek, membuat mereka sangat terpaksa. “Kita harus melaksanakan fardhu kifayah malam ini juga, sebab besok hari raya,” kata keucik dari pengeras suara Musalla. Diawasi oleh orang-orang bersenjata, Man Kopek diantar ke liang lahat malam naas itu juga.

Kopek atau Man Kopek hanya nama sandi, setelah dia bergabung dengan gerakan bersenjata. Nama aslinnya Banta Sulaiman. Dia minta izin untuk menjenguk anaknya. Ia sangat rindu anak-anaknya. Ia berjanji, hanya satu malam saja. “Ya, satu malam,” katanya.

“Uroe get, buleun get, leupek mak peuget, han teume rasa,” kelakarnya. Keadaan sangat gawat. Penyergapan di mana-mana. Jalan-jalan tikus yang biasanya digunakan menyuplai infomasi dan makanan semua dijaga. Minggu lalu, markas utama di Uteuen Kaye Lee Bak, dibombardir dengan pesawat tempur, tapi sasarannya meleset.

Man Kopek dan kawan-kawan anggota gerakan hanya menyaksikan manuver-manuver pesawat jenis Sukhoi yang baru dibeli dari Rusia itu sambil menutup rapat-rapat telinga, karena dentuman keras menggelegar seperti suara petir menyambar.

“Kalau saya selamat, akan saya bawa makanan ke markas”, katanya terakhir kali sebelum menyusuri jalur lintas Lhok Batee Intan. “Senjata tidak boleh dibawa,” sahut komandannya. “Kalau mau bawa senjata, tunggu saja beberapa hari lagi, ketika kita sudah memiliki informasi yang cukup,” tandas Pangliama Beurahim. Man Kopek sempat kecut juga, walaupun sebenarnya ia tergolong pemberani.

Tiba-tiba pertempuran Paya Laot dua bulan lalu kembali melintas dalam ingatannya. Waktu itu ia hanya bertugas memegang radio, tetapi tiba-tiba ia harus mengokang dua senja sekaligus, untuk melepaskan diri dari sergapan sambil memopong temannya yang terluka.

Ia teringat penyergapan Panton Makmu usai makan kenduri di rumah Panglima Sagoe Teungku Lhok Pawoh, suatu sore. Pertarungan sangat tak berimbang, tujuh orang kawanya meninggal dunia dan tiga pucuk senjata jenis AK 47 hilang siang itu.

Begitu juga kontak senjata Padang Raya Bruek yang menewaskan Yong Beutong dan tiga temannya. “Tapi pertempuran terakhir itu, bak laga film action, pihak lawan juga banyak jatuh korban, na perlawanan,” gumamnya dalam hati, miskipun lirih. Beutong itu, selain bertubuh kekar, juga pemberani dan pasukan lawan kerap dibuat kecut nyalinya. Siang naas itu terjadi kontak senjata yang panjang. Beutong terkepung di sebuah rumah tua, tiba-tiba granat dilempar ke atap.

Bersama tiga kawannya, Beutong meloncat ke luar rumah sambil melepaskan tembakan. “Mungkin itu yang dinamakan heroik, tidak pernah ada kata menyerah,” Man Kopek membatin. Memang setelah enam bulan pernyataan bahaya, banyak kawan-kawannya telah tiada. Pasukannya sudah terpencar-pencar dalam kelompok kecil, tidak terkonstrasi lagi seperti dulu, komunikasi juga sudah terputus.

Ia ingat, betapa ia harus menggedor rumah orang kampung di tengah malam buta untuk meminta makanan, beberapa temannya di markas yang jauh di hutan sering mengalami kelapan, karena ketiadaan makanan. Bahkan, sudah tiga orang meninggal, karena jatuh sakit malaria.

Man Kopek tidak punya firasat apa-apa, lalu beristirahat sejenak, karena sudah seharian berjalan. Ia berdoa dalam hati. Semoga selamat menjumpai anak-istrinya. Dia tahu, anak-anak juga sudah sangat rindu, karena sudah enam bulan tidak pernah berjumpa, sejak pemberlakuan keadaan bahaya dimulai.

“Pasti gadis kecilnya sudah sangat pintar bicara,” bisiknya dalam hati sambil tersenyum kecil, miskupun risau karena anak-anaknya tidak dibeli baju baru. “Sekarang pasti dia sudah ada di kampung menyambut lebaran.

Ia pasti mudik lebaran, sepatu pesanannya telah ada,” Man Kopek menerawang kemana-mana. Kawannya yang telah enam bulan berangkat ke kota telah pulang dan sepatu pesanannya telah ada. “Sepatu saya sudah robek, tolong belikan sepatu yang tahan dibawa ke hutan”, pinta Man Kopek pada temannya kala itu.

Sebenarnya, Man Kopek menjadi anggota gerakan bersenjata spontan saja, miskipun harus mebayar 60 ribu untuk ikut latihan militer di kam Gampông Tokoh. Memang, tahun 1999 itu, semua pemuda ikut latihan dasar-dasar kemiliteran.

Kemudian ia ikut latihan lanjutnya di pegunungan Kreung Batee. Man Kopek hanya tamatan sekolah dasar yang berprofesi sebagai nelayan untuk menghidupi keluarganya. Dia tidak begitu paham politik. Yang ia rasakan, hidup begitu susah.

“Ini pasti ada ketidak adilan, perlu ada perbaikan menegakkan keadilan agar anak-anak kita nanti bisa belajar dengan tenang,” katanya sekali waktu. Ia telah mendekati perkampungan penduduk. Ia telah melewati pinggir Gampong Ladang Panah dan pegunungan Pusu Jaya ketika matahari kian rebah ke barat. Secara mengendap-endap, ia melintasi sawah yang luas membentang antara Gampong Paya dan Pante Raja.

Kemudian masuk ke rawa ‘angker’ Paya Lhok yang berada di ujung Gampong Padang Manggis. Ia tertatih-tatih dan letih. Ia harus hati-hati, karena Paya Lhok, rawa-rawa yang dalam. Kalau terperosok, bisa tenggelam sampai kepala terbenam.

Kaki langit sudah memerah saga, matahari baru saja ditelan laut Samudera Hindia ketika Man Kopek menyelinap masuk lewat pintu belakang. Pelan, ia mengucapkan salam. Istri dan anaknya menjawab salam itu. Tak terasa, istrinya menitikkan air mata haru, karena besok hari raya.

Suaminya bisa berkumpul bersama. Ternyata salam ditemaran senja kala itu adalah doa terakhir dari suaminya agar ia kuat melanjutkan perjalanan menyelusuri sepanjang lorong waktu, zaman, dan sejarah yang datang dan pergi, terus berganti-ganti, berubah-ubah, meski dengan selingkar luka!

Banda Aceh, 7 Juni 2012

Oleh : Hamdan Budiman

comments

Penulis

Pemimpin Umum/Redaksi Koran Aceh, sejak Mahasiswa menulis pada Surat Kabar Mingguan Peristiwa, menjadi Wartawan Mimbar Umum Medan, Harian Pelita Jakarta. Pernah menjadi Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh. Lahir di Lhok Pawoh, Manggeng, Aceh Barat Daya, 6 Agustus 1969. Lulusan FKIP Universitas Syiah Kuala 1991, Jurusan Bahasa dan Seni. Aktif pada organisasi kepemudaan, aktivis LSM, Ketua Yayasan Peuradeun Nanggroe, Presidium Forum LSM Aceh priode 2000 – 2003.

Powered by lokava