Dispora Banda Aceh

Menjadi Orang Suka Tanya – Tanya

Menjadi Orang Suka Tanya – Tanya

Entah bagaimana, hari ini tiba-tiba saya kena penyakit suka tanya-tanya.

Begitu keluar dari rumah, pada orang pertama yang saya jumpai, saya bertanya, “Apa kriteria Calon Gubernur Aceh yang akan Ibu pilih di Pilkada 2017 nanti?” Ibu cantik itu menjawab, “Saya akan memilih Cagub yang diminta oleh orang ramai untuk mencalonkan diri.”

Saya bilang, “Ada bahayanya memilih orang seperti itu, Bu. Kalau kelak ia berkhianat pada janji, ia dengan mudah membela diri dengan berkata, ‘Pada awalnya aku tidak berniat nyagub, tapi karena permintaan banyak orang, yaaaaa, gimana.

Beginilah jadinya.’ Nah, itu bagaimana, Bu?” Ibu itu lantang menjawab, “Tidak. Saya akan tetap memilih Cagub yang diminta oleh orang ramai untuk mencalonkan diri. Titik!” Dan sambil meninggalkan ibu itu saya berucap, “Baiklah, Bu. Terima kasih. Mohon diri. Selamat berpartisipasi.”

Pada orang kedua yang saya jumpai, saya bertanya, “Apa kriteria Cagub yang akan Bapak pilih dalam Pilkada 2017 nanti?” Lelaki gemuk itu menjawab, “Saya akan memilih orang yang mencalonkan diri, lalu meminta orang ramai untuk memilihnya.”

Lalu saya bilang, “Ada bahayanya memilih orang seperti itu, Pak. Kalau kelak ia berkhianat pada janji, ia dengan mudah membela diri, misalnya dengan berkata, ‘Aku mengeluarkan uang untuk nyagub, aku mengeluarkan uang untuk meminta orang memilihku, yaaaaa, sekarang aku menginginkan semua modalku kembali.’ Nah, itu bagaimana, Pak?”

Dengan lantang bapak itu menjawab, “Tidak. Saya akan tetap memilih orang yang mencalonkan diri yang kemudian meminta orang ramai untuk memilihnya. Titik!” Dan sambil meninggalkan bapak itu saya berucap, “Baiklah, Pak. Terima kasih. Mohon diri. Selamat bermaterialisasi.”

Pada orang ketiga yang saya jumpai, saya bertanya, “Apa kriteria Cagub yang akan Abang pilih dalam Pilkada 2017 nanti?” Lelaki muda parlente itu menjawab, “Saya akan memilih orang yang sudah berbuat banyak pada masyarakat bertahun-tahun sebelum ia mencalonkan diri sebagai Cagub Aceh.”

Lalu saya bilang, “Ada bahayanya memilih orang seperti itu, Bang. Kalau kelak ia berkhianat pada janji, ia dengan mudah membela diri, misalnya dengan berkata, ‘Kemarin itu aku cuma nyagub, tak pernah minta orang untuk memilihku, tak pernah kasih duit agar orang-orang memilihku, tapi kenapa orang memilihku juga? Sekarang, ya, begini jadinya.’ Nah, itu bagaimana, Bang?”

Dengan enjoinya lelaki tinggi kurus itu menjawab, “Yaaa, setidak-tidaknya itu bisa kita anggap sebagai balas-budi atas segala pengorbanannya dulu selama bertahun-tahun kepada masyarakat. Untuk membalas budi dengan cara lain pun kita tidak mampu.” Dan sambil meninggalkan pemuda berkacamata plus itu saya berucap, “Baiklah, Bang. Terima kasih. Mohon diri. Selamat bertoleransi.”

Pada orang keempat yang saya jumpai, o’-ooo, saya kena batunya. Pada orang ini saya memang tidak ada niat untuk bertanya, tapi justru dia yang bertanya, “Siapa yang akan Anda pilih di Pilkada 2017 nanti?” Spontan, tanpa sempat berpikir ini-itu, saya langsung menjawab,”Ah, siapa lagi. Anda dooooooong.”

Dan Apa Karya pun tersenyum.

(Status Facebook Musmarwan Abdullah)

comments

Editor Rating
80
80
Menjadi Orang Suka Tanya - Tanya
User Rating
0
User rating
Penulis

Powered by lokava