Dispora Banda Aceh

Menunggu Gubernur Baru

Menunggu Gubernur Baru

Perdebatan antar kandidat gubernur telah berakhir, kita segera memasuki masa tenang, dan sampai pada hari pemilihan 15 Februari 2017.

Kita patut bersyukur karena kekerasan atas nama demokrasi dan politik kali ini cendrung menurun, miskipun disana-sini masih terjadi dinamika yang kadang membuat kita terluka. Dari berbagai panggung kampanye, baik dialogis, maupun kampanye di lapangan terbuka yang menghadiri banyak massa, melalui berbagai media, termasuk media sosial, dan ditambah lagi tiga kali debat yang disiarkan langsung oleh telivisi.

Bagi pemilih rasional, tentu telah dapat menilai visi-misi, gesture, postur, karakter, sikap, sifat dan kemampuan serta kecerdasan baik intelektualisme, maupun kecerdasan emosional dari enam kandidat gubernur yang akan memimpin Aceh lima tahun mendatang. Kata orang, pemilih cerdas akan melahirkan pemimpin cerdas, benarkah?

Bukankah keenam kandidat gubernur adalah orang-orang pilihan, bahkan lima kandidat diantaranya sudah pernah menjabat gubernur, lalu apa yang salah kalau seseorang memilih salah satu diantara mereka, bukan berarti yang lain tidak layak dipilih, karena memang memilih yang terbaik diantara yang baik juga bukan pekerjaan mudah.

Akhirnya hanyalah masalah pilihan-pilhan, baik bagi pemilih rasional, maupun pemilih emosional (tradisional), dan terpilihnya seorang pemimpin tidak ada hanya ditentukan oleh visi-misi, program kerja, kecerdasan atau komitmen tetapi lebih karena like and dislike (suka – tidak Suka), logika, akal sehat, rasionalitas selalu berhadapan dengan kepentingan-kepentingan.

Perdebatan, kontestasi, persaingan politik yang membuat suhu politik akan mencapai titik didih untuk kemudian menurun kembali ketitik normal secara bertahap setelah pesta demokrasi berakhir dan salah seorang kandidat berhasil mendapat suara terbanyak secara statistik, kemudian disebut pemenang pilkada atau gubernur terpilih.

Lalu apakah semua akan berakhir, tentu tidak, rakyat mempersilan gubernur terpilih untuk menyelesaikan berbagai persoalan, baik yang lama belum selesai, juga persoalan baru. Seperti masalah pengganguran dan kemiskinan. Sepuluh tahun sudah gonjang-ganjing antara eksekutif – legislatif, sehingga menyebabkan pengesahan APBA selalu terlambat.

Padahal semua tahu, ekonomi Aceh masih sangat tergantung dari kucuran dana APBA. Pasca damai, Aceh telah mendapat kucuran dana otsus senilai 47 triliun, hanya orang-orang yang tidak paham nilai mata uang yang mengatakan jumlah itu adalah sedikit, tetapi apakah persoalan klasik seperti indeks pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi untuk mengatasi penggangguran yang terus meningkat sudah lebih baik dari sebelumnya?

Apakah distribusi ‘kue pembangunan” akan berkedilan dan mereta, termasuk distribusi atau pendelegasian wewenang melalui pengangkatan pejabat masih berkutat dengan pola lama yang ditentang oleh kaum reformis yakni korupsi, kolusi, dan nepotisme yang kemudian menjatuhkan rezim Soeharto.

Apakah pelaksanaan proyek atau program pemerintah selalu menggunakan metode ‘Kut Pade Reudok’ di akhir tahun yang mengutamakan fee dari setiap proyek bukan kualitas atau mamfaat yang dapat dinikmati oleh rakyat.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa persoalan mendasar di negeri kita untuk dapat melangkah jauh lebih maju, lebih sejahtera, lebih berbahagia memang belum mendapat jalan penyelesaian yang bisa kita fahami bersama, karena selalu saja perncanaan dan pelaksanaan pogram pembangunan tidak konsisten pada prioritas bersama, tetapi mengikuti prioritas gubernur atau bupati terpilih.

Partisipasi rakyat secara lebih masif masih menjadi kendala utama dalam mendorong konsistensi pemerintah untuk fokus pada kepentinan bersama, sehingga yang muncul biasanya adalah sebuah egoisme ‘ngon ke’ dalam setiap perencanaan atau program kerja.

Dan jangan lupa, kita segera memiliki gubernur baru dengan semangat baru, dan harapan baru, serta komitmen baru dan tentu kita berharap tidak mengulang-ulang kebijakan yang tidak pro rakyat, karena sebenarnya mereka tahu! Selamat !

comments

Editor Rating
80
80
Pilgub
User Rating
9
User rating
Tags: ,
Penulis

Powered by lokava